Banyak orang bilang mahasiswa ITB itu pintar-pintar (katanya), dan banyak orang bilang mahasiswa ITB itu SO alias Study Oriented, kerjaannya belajar melulu. Tapi benarkah?
Saya rasa hal-hal seperti itu tidak hanya berada di kampus ini namun di seluruh kampus di Indonesia. Mahasiswa ITB hanya sedikit beruntung untuk dapat mengenyam fasilitas-fasilitas pendidikan yang lebih baik sehingga mendorong mereka lebih nyaman dalam masa pembelajaran.
Namun apakah karena hal tersebut dapat dikatakan bahwa mereka hanya memikirkan studinya saja. Jawabannya adalah Tidak!
Sudah dua tahun lamanya saya kuliah di institut ini, dan mencoba belajar dan mengambil berbagai pengalaman dari tiap lini fasilitas yang disediakan maupun yang tersedia. Fasilitas yang saya ambil adalah organisasi.
Di kampus ini secara garis besar ada 3 organisasi umum yang ada,
- Kabinet Keluarga Mahasiswa ITB
- Himpunan Mahasiswa Jurusan
- Unit Kegiatan Mahasiswa
Pada awal masuk ITB saya mencoba masuk pada salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa sebut saja PSTK-ITB (Perkumpulan Seni Tari dan Karawitan Jawa ITB). Mungkin pembaca mengira bahwa unit tersebut adalah tempat belajar seni budaya jawa, memang benar namun selidik punya selidik unit-unit di dalam kampus ini menggunakan hobi sebagai media untuk belajar keorganisasian. Dan berarti bahwa secara tidak langsung kita mendapat ilmu kepemimpinan disini.
Kemudian beranjak kepada Himpunan Mahasiswa Jurusan. Jelas di sini bahwa ranah kegiatan berhubungan erat dengan jurusan. Ya, namun kegiatan yang bersifat jurusan tidak menguasai sepenuhnya.
Kabiner Keluarga Mahasiswa yang bergerak pada ranah yang lebih luas, menyatukan semua unsur kegiatan mahasiswa ITB dan bergerak ke luar kampus untuk mewakilkan keseluruhan mahasiswa.
Setelah berada sekitar dua tahun saya melihat bahwa kebanyakan orang memang lebih senang dalam berkegiatan dalam organisasi seperti yang disebutkan di atas. Dan terkadang belajar adalah sampingan dari kegiatan itu pada mulanya.
Malah terkadang ada lelucon seperti ini, "Jurusan saya PSTK, unit saya Teknik Fisika". Bahh, itu karena porsi yang diberikan seseorang kepada organisasinya lebih tinggi dari belajar untuk akademiknya.
Kemudian rata-rata mahasiswa ITB senang dengan apa yang namanya Kajian. Yakni mengkaji mendalam mengenai isu-isu yang beredar dan tengah hangat di lingkungan, politik ekonomi dan sebagainya.
Ambil contoh rencana kenaikan harga BBM, menurut mahasiswa kampus lain mahasiswa ITB dianggap Bisu! Kenapa, karena tidak menunjukan pergerakan bahkan tidak mau diajak demo. Bahkan mahasiswa kampus sebelah mendatangi kampus ITB beramai-ramai dan mengajak mahasiswa ITB untuk berdemo, tapi kami tetap diam. Tahukah anda mengapa?
Untuk isu kenaikan BBM jelas mahasiswa ITB telah melakukan berbagai kajian dan menelaah berbagai alasan dan solusi yang sebenarnya harus diberikan. Saat itu mahasiswa ITB menilai bahwa demo itu tidak akan merubah apapun. Anda menolak kenaikan? Tapi tahukah anda bahwa kenaikan BBM merupakan cara penyelamatan keuangan negara? Jika BBM tidak naik mungkin anggaran beasiswa teman-teman kampus akan berkurang mungkin karena meledaknya anggaran subsidi.
Bah inilah yang menjadi kelebihan mahasiswa ITB bahwa beraksi tidak sekedar dengan nafsu namun dengan logika dan solusi yang ingin diberikan, dan saat itu KM ITB menyampaikan langsung aspirasinya ke DPR.
Hal lain yang bisa diambil contoh mengenai AEC 2015, bahkan hampir semua organisasi dalam ITB telah membahas dan mengetahui apa bagaimana kenapa AEC ini.
Atau mungkin Tolak Politisasi Kampus yang terkenal hingga sering menyudutkan mahasiswa kampus ini.
Nah dari penglihatan saya, hal ini menyebabkan mayoritas mahasiswa ITB lebih suka pada hal-hal internal dalam lingkup organisasi ini sehinga kurang berjaya dalam lomba-lomba yang sering diadakan. Hitung dan sebut saja lomba besar yang anda tahu, pasti sedikit mahasiswa ITB yang mengikutinya.
Namun ketika mahasiswa ITB mencetuskan ide, sungguh luar biasa kalau saya bilang, bahkan untuk merealisasikannya butuh waktu dan tenaga yang tak tahu berapa lama dan banyaknya.
Bahkan ada dosen yang pernah bilang, "Mahasiswa kampus X itu berpikir bagaimana cara mengalahkan ITB, namun malahan ITB berpikir bagaimana membuat negara Indonesia menjadi negara yang maju"
Itulah sedikit cerita dan pendapat saya. Tulisan ini tidak sepenuhnya benar, karena tiap orang memiliki pandangan yang berbeda. Tetaplah untuk berada di jalan yang benar untuk saling menghargai. Dan ayo bekerja sama untuk Indonesia yang lebih baik.